Home > Kolom > Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan atau Menghidupkan Kecerdasan Bangsa

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan atau Menghidupkan Kecerdasan Bangsa


Batam, 13 Mei 2010

Pagi itu di tengah terik matahari yang menyengat (terasa sekali panasnya terlebih bagi yang terbiasa di ruang ber AC alias Air Conditioner dan bukan AC alias Air Cendela) meskipun waktu baru menunjukkan pukul 07.45 WIB, atau 08.45 WOS (Waktunya Orang Singapura), upacara bendera tiap hari senin disebuah sekolah swasta di suatu kota yang jauh dari ibukota negara tengah dilaksanakan.

Meskipun kegiatan  ini diklaim beberapa pihak sebagai peninggalan orde baru  (baca: jamannya Pak Harto) dan tidak perlu dilaksanakan lagi, namun para guru masih banyak yang berpendapat bahwa kegiatan ini adalah salah satu cara untuk menanamkan kedisiplinan bagi anak didik yang cukup efektif.

Upacara berjalan sebagaimana biasa (biasanya para pelajar peserta upacara ini ribut dan ngobrol sendiri, atau tertawa bila petugas upacara melakukan suatu kesalahan kecil), terjadi kesalahan kecil yang dilakukan oleh petugas pembaca Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

Namun anehnya untuk kali ini para  murid peserta upacara tidak ada yang mentertawakan kesalahan tersebut, bisa jadi karena mereka tidak menyadari, sedang melamun,  atau tidak memperhatikan bacaan sang petugas atau malah fatalnya lagi, jangan-jangan karena mereka  tidak tahu isi dari Pembukaan UUD 1945 !

Sang anak petugas dengan susah payah (karena kurang latihan barangkali) membaca  naskah UUD 1945 dan ketika sampai pada bagian  tujuan didirikannya Negara Republik Indonesia, sang anak membaca salah satu poin  secara terbalik  (atau jangan-jangan memang demikian yang tertulis di naskah yang sedang dibaca sang anak petugas itu, sehingga bukan sang petugas yang salah tetapi si pengetik naskah barangkali), sang anak membaca, ”  ….menghidupkan kecerdasan bangsa…”

Penulis tergelitik dan kemudian mengingat-ingat kembali isi Naskah Pembukaan UUD 1945, seingat penulis bunyinya adalah , “….mencerdaskan kehidupan bangsa…”

Menghidupkan kecerdasan bangsa dan mencerdaskan kehidupan bangsa tentu memiliki arti yang berbeda. Pada kalimat yang pertama menghidupkan kecerdasan bangsa, dimana kecerdasan menjadi obyek dalam kalimat itu, tersirat suatu arti bahwa kecerdasan bangsa kita sedang tidak hidup alias sudah atau sedang mati, sehingga perlu untuk dihidupkan kembali. Sedangkan mencerdaskan kehidupan bangsa dimana kata cerdas menjadi kata kerja dalam kalimat itu, mengandung arti meningkatkan atau menaikkan level kecerdasan bangsa kita, artinya bangsa kita bukan bangsa yang tidak cerdas, namun sebuah peningkatan memang suatu keharusan.

Terlepas dari keterbalikan tersebut kalimat menghidupkan kecerdasan bangsa, ternyata cukup menarik untuk disimak. Coba kita ganti obyek dari kalimat tersebut dengan kata lain, nurani, perasaan, toleransi, tenggang rasa, harga diri, sehingga menjadi kalimat-kalimat, menghidupkan nurani bangsa, menghidupkan perasaan bangsa, menghidupkan toleransi bangsa, menghidupkan  tenggang rasa bangsa, menghidupkan harga diri bangsa, rasanya kalimat-kalimat tersebut cukup menggelitik hati untuk disimak.

Kalau kita melihat melihat berita-berita di stasiun-stasiun televisi kita akhir-akhir ini, sepertinya keterbalikan sang anak petugas upacara itu memang akan membuat kita tergelitik dan merenung, jangan-jangan malah kalimat yang terbalik itulah yang dibutuhkan bangsa kita untuk saat ini. Kasus-kasus keuangan (korupsi), mafia hukum sampai berita-berita tentang selebritis, membuat penulis malas mengikuti berita-berita, lebih nyaman nonton film, atau nonton acara flora dan fauna yang tidak ada korupsi-korupsian, atau markus, markusan, atau buayaan cicak, atau cicak buayaan, yang ada buaya beneran yang makannya banyak dan cicak beneran dan tak ada buaya yang korupsi atau cicak-cicak yang terlibat markus-markusan.

Sekali lagi  kita utak-atik kalimat tadi. Menghidupkan kecerdasan bangsa. Coba sekarang kita ganti kata ketiga dari kalimat itu dengan kata-kata murid-murid, menghidupkan kecerdasan murid-murid. Bila itu  murid-murid kita cerdas maka Ujian Nasional pasti lulus dan nilainyapun tinggi-tinggi, tidak perlu terjadi kecurangan di sana-sini untuk membuat murid-murid lulus.

Bila itu juga terjadi  negara-negara tetangga seperti Malaysia, akan kembali mengirimkan para mahasiswanya seperti era tahun 80-an ke UGM, UI , ITB  atau bahkan UNS karena kualitasnya yang meningkat jauh diatas Univ Kebangsaannya Malaysia (bukan karena mahalnya lho) dan nama Bulaksumur (kampusnya UGM), Salemba (kampusnya UI), Plesiran (kawasan kampusnya ITB) atau Kenthingan (kawasan kampusnya UNS) akan kembali terkenal hingga mancanegara.

Sementara itu  Singapura akan mengirimkan pelajarnya ke ITB  (karena lebih bagus kualitasnya dari NTU atau NUS) untuk belajar teknologi tinggi siapa tahu bisa bikin pesawat seperti Mr. B.J. Habiebie (dan bukan bikin panci karena kurang order), atau belajar bikin Pembangkit Listrik Tenaga Surya (Indonesia punya ahli sel surya lho yang bahkan diakui hingga keluar negeri namun Pemerintah masih ragu-ragu nampaknya hingga tidak kunjung terealisasai PLTS skala besar karena terbentur alasan-alasan yang seharusnya bisa ditangani dengan mudah), Vietnam akan kirim petaninya ke Karawang di Jawa Barat untuk belajar menanam padi yang baik (siapa tahu bisa panen  padi 5 kali dalam setahun dan sekaligus panen belut  yang sekarang sukar dijumpai karena bahan kimia di pertanian!).

Amerika Serikat akan mengirimkan mahasiswanya belajar Bahasa Indonesia di UNY (universitas Negreri Yogyakarta) atau UNS (Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta) karena saat itu Indonesia menjadi negara terkemuka di kawasan Asia Tenggara, Asia Pasifik mengalahkan Malaysia, Filipina, Vietnam, India, Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong, Australia dan China, sehingga orang-orang asing akan merasa perlu dan bangga untuk belajar Bahasa Indonesia…..

Terakhir silakan utak-atik dengan kata-kata pengusaha, jaksa, pemerintah, presiden, politisi, anggota Dewan yang terhormat, para menteri, ulama, tukang becak, pemulung, pemain sepak bola, petugas pajak, petugas bikin KTP, polisi lalu lintas  atau…dengan nama anda sendiri dan bayangkan saja apa yang akan terjadi  1 minggu, 1 tahun, 5 tahun atau 10 tahun kemudian….

Elfa Jamaal (Kolumnis Fisika Study Center)

Categories: Kolom
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: