Archive

Archive for the ‘Kolom’ Category

ALAMAT BARU

IPA atau IPS atau IPAS…..

Batam, 22 Mei 2010

Banyak orang tua berpendapat bahwa kalau anaknya masuk program IPA maka anaknya pintar, sedangkan kalau anaknya masuk IPS, anaknya bodoh. Orang tuapun akhirnya sekuat tenaga mendorong anaknya agar  masuk  IPA, sekalipun sang anak lebih suka masuk program IPS. Demikian juga di kalangan siswa. Banyak yang berpendapat anak-anak IPA lebih cerdas, lebih punya masa depan dan lebih bergengsi!

Salah besar jika penilaian kecerdasan dan kesuksesan seorang anak hanya dilihat apakah dia masuk program IPA atau IPS. Banyak kasus dimana anak-anak cerdas yang bisa masuk program IPA dengan sadar memilih untuk masuk IPS karena lebih sesuai dengan pilihan hatinya.  Salah besar pula bahwa asumsi anak IPA pasti lebih sukses dalam  karir dan massa depan dibandingkan anak IPS. Realitas di dunia kerja memberi gambaran bahwa tidak sedikit anak-anak IPS yang lebih sukses dari anak-anak IPA, diantaranya karena kecerdasan linguistik dan inter/intrapersonal yang dimilikinya, dengan tanpa menafikan bahwa banyak pula anak-anak IPA yang juga sukses dalam karir dan massa depannya.

Para ahli membagi kecerdasan manusia dalam berbagai kelompok. Ada yang disebut kecerdasan matematis-logis, kecerdasan linguistik, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetic, kecerdasan interpersonal dan intrapersonal, kecerdasan visual spasial dan banyak lagi para ahli menggolongkan kecerdasan-kecerdasan itu.

Secara umum setiap anak memiliki berbagai macam tipe kecerdasan tersebut dalam dirinya, meskipun dengan level dan kombinasi yang berbeda-beda. Ada yang menonjol kecerdasan matematisnya namun kurang dalam kecerdasan musikal dan linguistiknya. Ada yang lebih menonjol kecerdasan linguistiknya namun lemah di musikal dan visual spasialnya, dan berbagai macam kombinasi yang lain. Orang tua, guru  harus memahami kombinasi dari berbagai macam kecerdasan yang ada pada seorang anak sehingga tidak salah mengambil langkah yang akan menentukan masa depan anak.  Demikian juga sang anak harus mampu mengidentifikasi kombinasi berbagai kecerdasan tersebut  dalam dirinya mengetahui kecerdasan-kecerdasan mana yang lebih menonjol.

Dalam garis besar faktor-faktor  yang harus diperhatikan dalam pemilihan jurusan di level Sekolah Menengah Atas,  diantaranya adalah:

1. Minat dan cita-cita anak.
2. Kemampuan di mata pelajaran-mata pelajaran khusus tiap jurusan.
3. Dorongan orang tua dan guru.

Bila seorang anak ingin jadi seorang engineer atau seorang dokter, tentunya  menurut poin nomor  1,  anak tersebut seharusnya memilih program IPA. Bila anak ingin jadi ahli keuangan atau diplomat lebih baik jika dia memilih program IPS. Namun faktor minat tersebut bisa tereliminer oleh faktor yang kedua, kemampuan di bidang pelajaran masing-masing  jurusan. Jika anak lemah di matematika, kimia atau fisika tentu disarankan untuk tidak memilih jurusan IPA, karena dipastikan akan kesulitan di tahun kedua dan tahun ketiga karena pelajaran-pelajaran tersebut lebih mendominasi di bandingkan pelajaran lainnya, juga akan menjadi kendala ketika nanti harus menghadapi UN yang diselenggarakan oleh pemerintah. Bagaimana dengan faktor dorongan orang tua dan guru? Faktor ini sesungguhnya hanyalah sebagai pelengkap saja, yang akan berfungsi ketika sang anak kebingungan dalam menentukan jurusan mana yang akan dipilihnya. Tentunya orang tua dan gurupun akan membuat pertimbangan-pertimbangan yang sesuai dengan kondisi anak, dan tidak boleh memaksakan kemauannya setelah mengetahui kemana kecenderungan jurusan anak.

Apakah anak yang secara teoritis tidak pas masuk IPA atau secara teoritis tidak pas masuk IPS namun mengambil jurusan yang sebaliknya pasti akan gagal di jurusan yang dipaksakannya? Jawabannya adalah belum tentu, karena akhirnya kerajinan, usaha, doa, pantang menyerah dan kerja keraslah yang menentukan kesuksesan seseorang, bukan bakat atau kemampuan dasar yang dimiliki seseorang !

Bagaimana dengan seorang anak yang memiliki cita-cita setengah mati ingin menjadi seorang engineer atau seorang dokter kemudian ternyata harus masuk ke jurusan IPS, apakah dia harus mengganti cita-citanya? Tidak, banyak jalan menuju Roma, apalagi cuma ke Nongsa. Banyak kasus dimana anak-anak yang berasal dari jurusan IPS akhirnya malah kuliah di jurusan IPA, seperti Teknik dan Kedokteran, atau sebaliknya anak-anak jurusan IPA yang akhirnya kuliah di bidang hukum maupun keuangan, apakah mereka sukses? Tentunya sekali lagi diperlukan kerja keras, pantang menyerah dan jangan lupa berdoa kepada Sang Pencipta!

fsc_admin

Categories: Kolom

Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan atau Menghidupkan Kecerdasan Bangsa

Batam, 13 Mei 2010

Pagi itu di tengah terik matahari yang menyengat (terasa sekali panasnya terlebih bagi yang terbiasa di ruang ber AC alias Air Conditioner dan bukan AC alias Air Cendela) meskipun waktu baru menunjukkan pukul 07.45 WIB, atau 08.45 WOS (Waktunya Orang Singapura), upacara bendera tiap hari senin disebuah sekolah swasta di suatu kota yang jauh dari ibukota negara tengah dilaksanakan.

Meskipun kegiatan  ini diklaim beberapa pihak sebagai peninggalan orde baru  (baca: jamannya Pak Harto) dan tidak perlu dilaksanakan lagi, namun para guru masih banyak yang berpendapat bahwa kegiatan ini adalah salah satu cara untuk menanamkan kedisiplinan bagi anak didik yang cukup efektif.

Upacara berjalan sebagaimana biasa (biasanya para pelajar peserta upacara ini ribut dan ngobrol sendiri, atau tertawa bila petugas upacara melakukan suatu kesalahan kecil), terjadi kesalahan kecil yang dilakukan oleh petugas pembaca Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

Namun anehnya untuk kali ini para  murid peserta upacara tidak ada yang mentertawakan kesalahan tersebut, bisa jadi karena mereka tidak menyadari, sedang melamun,  atau tidak memperhatikan bacaan sang petugas atau malah fatalnya lagi, jangan-jangan karena mereka  tidak tahu isi dari Pembukaan UUD 1945 !

Sang anak petugas dengan susah payah (karena kurang latihan barangkali) membaca  naskah UUD 1945 dan ketika sampai pada bagian  tujuan didirikannya Negara Republik Indonesia, sang anak membaca salah satu poin  secara terbalik  (atau jangan-jangan memang demikian yang tertulis di naskah yang sedang dibaca sang anak petugas itu, sehingga bukan sang petugas yang salah tetapi si pengetik naskah barangkali), sang anak membaca, ”  ….menghidupkan kecerdasan bangsa…”

Penulis tergelitik dan kemudian mengingat-ingat kembali isi Naskah Pembukaan UUD 1945, seingat penulis bunyinya adalah , “….mencerdaskan kehidupan bangsa…”

Menghidupkan kecerdasan bangsa dan mencerdaskan kehidupan bangsa tentu memiliki arti yang berbeda. Pada kalimat yang pertama menghidupkan kecerdasan bangsa, dimana kecerdasan menjadi obyek dalam kalimat itu, tersirat suatu arti bahwa kecerdasan bangsa kita sedang tidak hidup alias sudah atau sedang mati, sehingga perlu untuk dihidupkan kembali. Sedangkan mencerdaskan kehidupan bangsa dimana kata cerdas menjadi kata kerja dalam kalimat itu, mengandung arti meningkatkan atau menaikkan level kecerdasan bangsa kita, artinya bangsa kita bukan bangsa yang tidak cerdas, namun sebuah peningkatan memang suatu keharusan.

Terlepas dari keterbalikan tersebut kalimat menghidupkan kecerdasan bangsa, ternyata cukup menarik untuk disimak. Coba kita ganti obyek dari kalimat tersebut dengan kata lain, nurani, perasaan, toleransi, tenggang rasa, harga diri, sehingga menjadi kalimat-kalimat, menghidupkan nurani bangsa, menghidupkan perasaan bangsa, menghidupkan toleransi bangsa, menghidupkan  tenggang rasa bangsa, menghidupkan harga diri bangsa, rasanya kalimat-kalimat tersebut cukup menggelitik hati untuk disimak.

Kalau kita melihat melihat berita-berita di stasiun-stasiun televisi kita akhir-akhir ini, sepertinya keterbalikan sang anak petugas upacara itu memang akan membuat kita tergelitik dan merenung, jangan-jangan malah kalimat yang terbalik itulah yang dibutuhkan bangsa kita untuk saat ini. Kasus-kasus keuangan (korupsi), mafia hukum sampai berita-berita tentang selebritis, membuat penulis malas mengikuti berita-berita, lebih nyaman nonton film, atau nonton acara flora dan fauna yang tidak ada korupsi-korupsian, atau markus, markusan, atau buayaan cicak, atau cicak buayaan, yang ada buaya beneran yang makannya banyak dan cicak beneran dan tak ada buaya yang korupsi atau cicak-cicak yang terlibat markus-markusan.

Sekali lagi  kita utak-atik kalimat tadi. Menghidupkan kecerdasan bangsa. Coba sekarang kita ganti kata ketiga dari kalimat itu dengan kata-kata murid-murid, menghidupkan kecerdasan murid-murid. Bila itu  murid-murid kita cerdas maka Ujian Nasional pasti lulus dan nilainyapun tinggi-tinggi, tidak perlu terjadi kecurangan di sana-sini untuk membuat murid-murid lulus.

Bila itu juga terjadi  negara-negara tetangga seperti Malaysia, akan kembali mengirimkan para mahasiswanya seperti era tahun 80-an ke UGM, UI , ITB  atau bahkan UNS karena kualitasnya yang meningkat jauh diatas Univ Kebangsaannya Malaysia (bukan karena mahalnya lho) dan nama Bulaksumur (kampusnya UGM), Salemba (kampusnya UI), Plesiran (kawasan kampusnya ITB) atau Kenthingan (kawasan kampusnya UNS) akan kembali terkenal hingga mancanegara.

Sementara itu  Singapura akan mengirimkan pelajarnya ke ITB  (karena lebih bagus kualitasnya dari NTU atau NUS) untuk belajar teknologi tinggi siapa tahu bisa bikin pesawat seperti Mr. B.J. Habiebie (dan bukan bikin panci karena kurang order), atau belajar bikin Pembangkit Listrik Tenaga Surya (Indonesia punya ahli sel surya lho yang bahkan diakui hingga keluar negeri namun Pemerintah masih ragu-ragu nampaknya hingga tidak kunjung terealisasai PLTS skala besar karena terbentur alasan-alasan yang seharusnya bisa ditangani dengan mudah), Vietnam akan kirim petaninya ke Karawang di Jawa Barat untuk belajar menanam padi yang baik (siapa tahu bisa panen  padi 5 kali dalam setahun dan sekaligus panen belut  yang sekarang sukar dijumpai karena bahan kimia di pertanian!).

Amerika Serikat akan mengirimkan mahasiswanya belajar Bahasa Indonesia di UNY (universitas Negreri Yogyakarta) atau UNS (Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta) karena saat itu Indonesia menjadi negara terkemuka di kawasan Asia Tenggara, Asia Pasifik mengalahkan Malaysia, Filipina, Vietnam, India, Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong, Australia dan China, sehingga orang-orang asing akan merasa perlu dan bangga untuk belajar Bahasa Indonesia…..

Terakhir silakan utak-atik dengan kata-kata pengusaha, jaksa, pemerintah, presiden, politisi, anggota Dewan yang terhormat, para menteri, ulama, tukang becak, pemulung, pemain sepak bola, petugas pajak, petugas bikin KTP, polisi lalu lintas  atau…dengan nama anda sendiri dan bayangkan saja apa yang akan terjadi  1 minggu, 1 tahun, 5 tahun atau 10 tahun kemudian….

Elfa Jamaal (Kolumnis Fisika Study Center)

Categories: Kolom
%d bloggers like this: